Tauhid Mengajarkan Agar Manusia Mulia, Lebih Tinggi Derajatnya daripada Makhluk yang Lain





#IndonesiaBertauhid
-Bro, begini, beberapa ajaran syirik itu, kadang gak sesuai dengan fitrah dan logika manusia dan membuat manusia menjadi lebih hina, padahal dalam AlQuran Allah telah memuliakan manusia dibanding makhluk lainnya
-Coba dipikir deh, masa’ ada hewan misalnya kerbau atau kambing yang dikeramatkan, yang Allah ciptakan untuk dimanfaatkan manusia sekarang dipelihara, diperlalukan istimewa, kalau gak nanti bisa kualat bahkan dimuliakan oleh manusia berlebihan
-Kalu gue sih, gue makan aja kerbaunya, lha memang diciptakan Allah untuk dimanfaatkan manusia, semua kerbau sama, yang bisa memberikan manfaat dan madharat hanya Allah, apalagi harga daging mahal bro.
-Begitu juga mau bangun jembatan dan bangunan, katanya sembelih kerbau, keyakinannya supaya bangunan kuat dan tanam kepala kerbau
-Kalu gue mah, yang logis-logis aja, kalau mau kuat ya diperbaiki arsitek dan bahan-bahannya, terus berdoa kepada Allah
-Trus lagi, katanya supaya gunung gak ngamuk mau meletus dan air laut pantai gak sering makan korban, katanya harus kasi sesembahan, ada buah-buah enak, makanan, daging yang di masak, pokoknya lezat-lezat bahkan ada uang juga bro, gak lupa ada acara ritual yang biayanya lumayan gedhe
-Kalu gue sih, itu semua gue makan atau kasi sumbangan warga sekitar, nah fenomena gunung meletus ya dicari sebabnya, begitu juga laut yang sering makan korban
-Begitu juga dengan ramalan, baca ramalan atau zodiak syirik, udah semangat mau keluar ama keluarga jalan-jalan, atau mau cari kerja, eh baca zodiak katanya ramalan hari ini lagi apes dan bangkrut, trus gak jadi keluar deh
-Kalu ane mah, keluar aja jalan-jalan, mumpung ada waktu bahagiain keluarga, yang logis aja, kecuali di luar ada angin puting beliung, ya jangan keluar 🙂
-Begitu juga kalau ada impian dan keinginan, misalnya mau masuk kuliah yang Favorit, si dukun yang syirik nyuruh harus cari ayam tiga warna dan sembelih di mana gitu sambil sebut nama-nama yang gak jelas gitu
Atau melakulan amalan ini dan amalan itu yang gak jelas dan gak ada hubungannya dengan tujuan tadi, misalnya supaya skipsi lancar dan diterima, kata dukunnya harus dibawa, dibacakan mantera dan dihanyutkan ke sungai apa gitu
-Yang logis aja bro, skripsi itu sering-sering konsul dan kejar terus dosennya, minimal lulus karena dosennya liat semangatmu
-Jadi bro ajaran TAUHID dan JANGAN SYIRIK jelas memuliakan manusia
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَم
َ
“Dan sungguh kami telah memuliakan anak Adam.” (QS. Al Isra [17]: 70)

Penyusun: Raehanul Bahraen

PANDANGAN HIDUP SEORANG MUSLIM






بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
🌴 “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [Adz-Dzariyyat: 56]
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah tujuan dan hikmah penciptaan jin dan manusia.
 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
أن هَذَا هُوَ الْمَقْصُود الَّذِي خلق الله الْخلق لَهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى {وَمَا خلقت الْجِنّ وَالْإِنْس إِلَّا ليعبدون} فَكل مَا كَانَ لأجل الْغَايَة الَّتِي خلق لَهُ الْخلق كَانَ مَحْمُودًا عِنْد الله وهو الذي يبْقى لصَاحبه وينفعه الله بِهِ وَهَذِه الأعمال هِيَ الْبَاقِيَات الصَّالِحَات
“Bahwa inilah maksud Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan makhluk, sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” (Adz-Dzariyyat: 56) Maka setiap amalan yang dikerjakan untuk tujuan ibadah, terpuji di sisi Allah dan itulah yang akan kekal bagi pemiliknya serta mendapatkan manfaat dari Allah. Inilah amal-amal shalih yang akan tetap tinggal bersama pemiliknya.” [Al-Istiqomah, 2/284-285]
 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,
وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: {وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} فَالْغَايَةُ الْحَمِيدَةُ الَّتِي بِهَا يَحْصُلُ كَمَالُ بَنِي آدَمَ وَسَعَادَتُهُمْ وَنَجَاتُهُمْ عِبَادَةُ اللَّهِ وَحْدَهُ، وَهِيَ حَقِيقَةُ قَوْلِ الْقَائِلِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَلِهَذَا بَعَثَ اللَّهُ جَمِيعَ الرُّسُلِ، وَأَنْزَلَ جَمِيعَ الْكُتُبِ، وَلَا تَصْلُحُ النَّفْسُ وَتَزْكُو وَتَكْمُلُ إِلَّا بِهَذَا
“Dan sungguh Allah ta’ala telah berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” (Adz-Dzariyyat: 56) Maka tujuan mulia yang dengannya anak Adam akan meraih kesempurnaan, kebahagiaan dan keselamatan adalah beribadah kepada Allah yang satu saja, dan inilah hakikat ucapan “Laa ilaaha illallah”, dan karena itulah Allah ta’ala mengutus seluruh rasul dan menurunkan semua kitab, dan jiwa tidak akan menjadi baik, bersih dan sempurna kecuali dengan ini (ibadah kepada Allah yang satu saja).” [Al-Jawaabus Shahih, 6/29]
 Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
وَمَعْنَى الْآيَةِ: أَنَّهُ تَعَالَى خَلَقَ الْعِبَادَ لِيَعْبُدُوهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَمَنْ أَطَاعَهُ جَازَاهُ أَتَمَّ الْجَزَاءِ، وَمِنْ عَصَاهُ عَذَّبَهُ أَشَدَّ الْعَذَابِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ غَيْرُ مُحْتَاجٍ إِلَيْهِمْ، بَلْ هُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَيْهِ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِمْ، فَهُوَ خَالِقُهُمْ وَرَازِقُهُمْ
“Makna ayat ini: Bahwa Allah menciptakan makhluq semata-mata untuk beribadah kepada-Nya saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang menaati perintah-Nya, maka Dia akan membalasnya dengan balasan yang paling sempurna, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada-Nya, maka Dia akan mengazabnya dengan azab yang paling pedih. Allah ta’ala juga mengabarkan bahwa Dia tidak butuh kepada makhluq, bahkan makhluqlah yang butuh kepada-Nya dalam segala keadaan mereka, Dia-lah Allah Pencipta dan Pemberi rezeki mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir, 7/425, Fathul Majid, hal. 19]
📋 HAKIKAT IBADAH ADALAH TAUHID
Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah menegaskan bahwa ibadah yang dimaksudkan dalam ayat yang mulia ini adalah tauhid, bukan sekedar menyembah Allah, tetapi memurnikan penyembahan hanya kepada Allah yang satu saja, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; yaitu meyakini hanya Allah ta’ala satu-satunya sesembahan yang benar dan tidak boleh mempersembahkan satu bentuk ibadah kecuali kepada-Nya saja.
Maka siapa yang beribadah kepada Allah, tetapi ia meyakini ada selain Allah yang boleh diibadahi atau ia masih juga beribadah kepada selain-Nya, seperti berdoa dan tawakkal kepada selain Allah, menyembelih dan berkurban untuk selain-Nya, maka pada hakikatnya ia belum beribadah kepada Allah, karena ia belum memurnikan ibadah hanya kepada Allah.
 Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,
كَلُّ مَا وَرَدَ فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْعِبَادَةِ فَمَعْنَاهَا التَّوْحِيدُ
“Semua kata ibadah yang disebutkan dalam Al-Qur’an maknanya adalah tauhid.” [Tafsir Al-Baghawi, 1/71]
Inilah keyakinan yang benar dan pandangan hidup seorang mukmin, bahwa hidup semata-mata untuk menghamba kepada Allah ta'ala dan mengingkari penghambaan kepada selain-Nya. Dan Allah ta'ala telah membantah orang-orang yang tidak memiliki pandangan hidup ini,
أَيَحْسَبُ الأِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدىً
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan sia-sia begitu saja?” [Al-Qiyaamah: 36]
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu untuk main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah (dari perbuatan mencipta untuk main-main), Dia Raja Yang Sebenarnya; tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) 'arsy yang mulia." [Al-Mukminun: 115-116]
📋 DOSA SYIRIK MENAFIKAN TUJUAN DAN HIKMAH PENCIPTAAN MAKHLUK
Syirik menafikan tujuan penciptaan makhluk untuk beribadah kepada Allah ta’ala yang satu saja, andai seorang yang melakukan syirik itu beribadah sekali pun maka ibadahnya tidak akan diterima, bahkan semua ibadah yang pernah ia kerjakan menjadi batil dan terhapus pahalanya.
 Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]
 Allah Ta’ala juga berfirman,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]
Terhapusnya amalan pelaku syirik apabila ia mati sebelum bertaubat. Adapun jika ia bertaubat sebelum mati dengan memenuhi syarat-syarat taubat dan kembali kepada tauhid, maka insya Allah ta’ala amalannya tidak terhapus, sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqoroh: 217]
📚 [Disadur dari buku "Tauhid, Pilar utama Membangun Negeri" hal. 13-16 Cet. Ke 2 1437 H, karya Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah]

KETIKA AJAL DATANG…





Ketika ajal datang; saat itu juga semua keduniaanmu berakhir..
Jika engkau telah dibaringkan di kuburmu.. dan engkau telah menghadap Rabbmu.
Maka tidak akan berguna lagi pujian dan sanjungan manusia kepadamu.
Tidak akan bermanfaat lagi banyaknya orang yang bertepuk tangan untukmu.
Tidak akan ada efeknya lagi banyaknya like pada statusmu, begitu pula banyaknya teman dan follower-mu.
Yang nantinya akan bermanfaat dan berguna bagimu adalah :
– sujud yang kau sembunyikan..
– linangan air mata yang kau teteskan karena takut kepada Allah..
– amal jariyah yang kau salurkan untuk agama Allah..
– bacaan Qur’an dan dzikir yang kau lirihkan karena dorongan keikhlasan..
– uluran tanganmu dalam membantu dan meringankan beban hidup orang lain..
– dan amal shaleh apapun yang kau lakukan dengan keikhlasan yang sebenarnya.
Oleh karenanya, jadikanlah akherat sebagai tujuan hidupmu.. itulah yang akan selamanya kau nikmati di alam baka..
Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.
Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Twitter @IslamDiaries
Instagram @DiariesImage
Telegram channel IslamDiaries

MUSIBAH SEBAGAI JALAN MENGHAPUS DOSA




Saudaraku saudariku…
Tatkala kita mengetahui besarnya jumlah utang kita
Dan kita mengetahui pula bahwa jumlah aset kita tidak cukup untuk melunasinya
Bahkan kalau kita mempekerjakan diri kita dan keluarga kita untuk menebus hutang
Maka kita tergolong orang yang bangkrut, pailit.
sekarang coba bayangkan,
dalam setiap harinya, berapa banyak dosa yang kita lakukan...?
Kita tidak pernah menghitungnya,
kalau amal kebajikan insyaAllah dihitung…
Sebagian tidak merasa berbuat dosa, karena memang ia tidak mengetahui mana yang dosa dan mana yang bukan…
Lepas dari semua itu, Allah, ar Rahman ar Rahiim…
Yang Maha Mengetahui dengan segala kekurangan hambanya, telah membuat suatu sistem pelunasan dosa yang sangat indah…
Yaitu, dengan menurunkan berbagai macam musibah
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ
مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى
– حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih , kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Jadi yang lagi sakit, pada hakekatnya dia sedang melunasi hutang-hutangnya
Maka tiada kata yang lebih pantas diucapkan pada waktu itu kecuali bersyukur kepada Allah
Salah satu ulama’ salaf berkata:
لولا مصائب الدنيا
لوردنا الآخرة مفلسين
“Andai kata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut”
Bagi saudaraku saudariku yang sedang dapat musibah…
Saatnya menjadikan musibah itu sebagai ladang pelunasan dosa…
Dengan menata hati,
Bersabar
Meridhoi takdir ilahi
Bersyukur kepada Rabbi
Selamat mengamalkan…

Oleh :
Ustadz Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى
-

Keutamaan Berjalan ke Masjid pada Waktu Shubuh dan Isya









Ini satu hadits yang membicarakan keutamaan berjalan ke masjid di kegelapan, terutama saat shalat Shubuh dan Isya.

Hadits no. 1058 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Bab Keutamaan Berjalan ke Masjid

عن بُريدَة – رضي الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ)) رواه أبُو دَاوُدَ وَالتِّرمِذِيُّ .

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 561; Tirmidzi, no. 223. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kesimpulan Mutiara Hadits

1. Orang beriman mendapatkan kabar gembira tentang keadaannya yang bercahaya pada hari kiamat.

2. Setiap hamba berada dalam kegelapan kecuali orang yang beriman.

3. Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berjalan di kegelapan dan ini ditemukan dalam shalat Isya’ dan shalat Shubuh yang dilakukan berjamaah di masjid. Mereka yang menjaga shalat tersebut, itulah yang akan mendapatkan cahaya pada hari kiamat.

4. Ada beberapa hikmah shalat berjamaah Isya dan Shubuh di masjid: (a) akan mudah turun berkah dan rahmat, (b) dengan berjamaah bisa menambah ilmu dan mengerti cara beramal shalat yang benar dengan memperhatikan lainnya, (c) keikhlasan dan kekhusyu’an sebagian jamaah akan berpengaruh pada jamaah lainnya, sehingga membuat ibadah seluruh jamaah jadi diterima.
-
Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 239-240; Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 314-319.

Sumber : https://rumaysho.com/15307-keutamaan-berjalan-ke-masjid-pada-waktu-shubuh-dan-isya.html



Apa Sih Maksudnya “Syafaat” ?



-Syafaat itu artinya menjadi penengah/memberikan kebaikan kepada seseorang dan menolak keburukan
-Syafaat yang kita bahas adalah syafaat di hari kiamat nanti
-Sebenarnya ada contoh syafaat di dunia, yang BOLEH
misalnya:
Kawan kita sangat butuh tanda tangan izin sekolah direktur, dia sangat sulit menemuinya dan kita adalah orang kepercayaan direktur, sehingga kita mudah menemui dan bantu menemukannya dengan direktur, sehingga ia mudah dapat tanda tangan
Ada juga syafaat yang BURUK dengan “memakai orang dalam” tetapi main suap atau memgambil hak orang lain kemudian diberikan kepada yang lain
Inilah maksud ayat
مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا
“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)
-Nah yang kita bahas lebih penting adalah syafaat di akhirat, yaitu buah dari TAUHID dan KEIMANAN
-Syafaat di akhirat sangat penting dan perlu seorang muslim tahu apa saja, karena mengingat suasana akhirat yang kita sangat butuh syafaat
-Di Akhirat Allah yang memberikan syafaat kepada makhluk-Nya
-Makhluk yang lain juga memberikan syafaat, seperti Nabi, Malaikat, sahabat yang shalih, anak dan lain-lain,
tentunya dengan syarat:
1. Allah meridhai orang yang MEMBERI syafaat.
2. Allah meridhai orang yang DIBERI syafaat.
3. Allah MENGIZINKAN pemberi syafaat untuk
memberi syafaat
Allah berfirman,
ﻣَﻦ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸْﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُ ﺇِﻻَّ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻪِ
“ Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. ” (Al-Baqarah: 255)
-Bentuk syafaat bisa:
1. Mengurangi siksaan/kesusahan hari kiamat
2. Menyegerakan kebaikan di akhirat
3. Mencegah masuk neraka
4. Mengeluarkan dari neraka
-Berikut macam-macam syafaat (harus tahu ya, kalau mau dapat, harus tahu ilmunya)
1. Syafaat terbesar, yaitu syafaat dari Allah
Allah mengeluarkan penduduk yang masih memiliki iman dari neraka ke surga dalam jumlah yang BANYAK
Setelah para Nabi, malaikat, orang shalih dan sahabat yang shalih memberikan syafaat, tetapi jumlahnya TERBATAS
Sehingga syafaat Allah yang paling besar mengeluarkan semuanya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَيَشْفَعُ النَّبِيُّونَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَالْمُؤْمِنُونَ فَيَقُولُ الْجَبَّارُ بَقِيَتْ شَفَاعَتِى . فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ فَيُخْرِجُ أَقْوَامًا قَدِ امْتُحِشُوا ، فَيُلْقَوْنَ فِى نَهَرٍ بِأَفْوَاهِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ مَاءُ الْحَيَاةِ ، فَيَنْبُتُونَ فِى حَافَتَيْهِ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِى حَمِيلِ السَّيْلِ
Para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang beriman, semua telah memberi syafaat. Lalu Allah berfirman, “SEKARANG TINGGAL SYAFAATKU”
Kemudian Allah menciduk isi neraka, dan Allah keluarkan banyak sekali manusia yang mereka telah gosong terbakar.
Lalu mereka diletakkan di sungai di pintu surga, yang disebut sungai al-hayat.
Hingga tubuh mereka tumbuh di tepian sungai, sebagaimana biji tumbuh di tumpukan tanah yang dibawa arus.(HR. Bukhari, Muslim)
2. Syafaat dari para Nabi, malaikat, orang mukmin sesama mereka
Sebagaimana dijelaskan di atas
3. Syafaat khusus bagi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, yaitu:
A. Asy-Syafaah al-Udzma (syafaat yang paling agung) atau al-Maqam al-Mahmud (kedudukan yang terpuji).
syafaat kepada manusia yang ada di padang mahsyar, kesusahan dan merasa sempit. Manusia minta syafaat kepada para Nabi, tetapi para nabi tidak bisa.
Mulai dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, sampai Isa
kemudian Nabi Muhammad yang bisa memberikan atas izin Allah
B. Syafaat beliau rkepada penduduk surga agar segera masuk surga karena beliau yang pertama kali meminta dibukakan pintu dan pertama kali masuk surga
C. Syafaat khusus beliau kepada pamannya Abu Thalib agar diringankan adzabnya, beliau yang sangat gigih membela dakwah tetapi mati musyrik
(ingat adzab neraka yang paling ringan, pakai sendal dari api dan otak mendidik, waliyadzu billah)
-Semoga kita termasuk orang yang banyak mendapat syafaat dan bisa memberikan syafaat dengan terus mempelajari dan mengamalkan TAUHID

Penyusun: Raehanul Bahraen


Renungan untuk Rajin Shalat Berjama’ah di Masjid



Shalat jama’ah memiliki keutamaan dibanding shalat sendirian dengan selisih 27 derajat sebagaimana sering kita dengar. Inilah keutamaan shalat jama’ah tersebut. Disamping itu, orang yang menunggu shalat di masjid juga akan mendapat pahala dan do’a malaikat. Begitu pula ketika seseorang sudah berjalan dari rumahnya menuju masjid, itu pun sudah dihitung pahalanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

“Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari no. 477 dan Muslim no. 649).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Bolehnya melaksanakan shalat di pasar, meskipun saat itu hati terkadang tersibukkan dengan urusan duniawi dan kurang khusyu’ sehingga kurang disukai.

2- Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian yaitu 25, 26, atau 27 derajat sebagaimana disebutkan dalam riwayat lainnya.

3- Hukum shalat jama’ah bagi pria adalah fardhu ‘ain menurut pendapat yang lebih kuat. Hal ini telah dijelaskan oleh Rumaysho.Com pada tulisan “Hukum Shalat Jama’ah”. Sedangkan bagi wanita tidaklah dihukumi wajib sebagaimana diterangkan dalam tulisan “Shalat Jama’ah bagi Wanita”, bahkan shalat wanita lebih baik di rumahnya. Sedangkan hadits ini yang menerangkan pahala shalat jama’ah 20 sekian derajat daripada shalat sendirian tidak menunjukkan bahwa hukum shalat jama’ah itu sunnah (dianjurkan). Dalil lain menunjukkan bahwa hukum shalat jama’ah itu wajib ‘ain karena ada ancaman keras bagi yang meninggalkan shalat jama’ah dan orang buta yang mendengar adzan masih disuruh untuk menghadiri shalat jama’ah.

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhohullah berkata, “Orang yang melaksanakan shalat sendirian masih sah, namun dihukumi berdosa karena ia telah meninggalkan shalat berjama’ah. Wallahu a’lam.” (Lihat Bahjatun Nazhirin, 1: 38). Ini tentu bagi yang meninggalkan shalat jama’ah tanpa ada uzur.

Silakan baca tulisan Rumaysho.Com mengenai “Keutamaan Shalat Jama’ah”.

4- Niat yang membuat seseorang pergi keluar hingga menunggu shalat dinilai berpahala. Jika seseorang keluar rumah tidak berniat untuk shalat, tentu tidak mendapat pahala seperti itu. Sehingga benarlah Imam Nawawi memasukkan hadits ini dalam kitab beliau Riyadhus Sholihin pada hadits no. 10 di Bab “Ikhlas dan Menghadirkan Niat”.

5- Shalat lebih utama dari amalan lainnya karena terdapat do’a malaikat di sana.

6- Di antara tugas para malaikat adalah mendo’akan kebaikan pada orang-orang beriman. Do’a ini ada selama seorang yang shalat tidak berbuat kejelekan di masjid dan selama ia terus berada dalam keadaan suci (berwudhu).

7- Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Jika seseorang menunggu shalat dalam waktu yang lama, setelah sebelumnya melakukan shalat tahiyatul masjid dan berdiam setelah itu, maka akan dihitung pahala shalat.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 74).

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Hanya Allah yang memberi taufik dan petunjuk.

Sumber : https://rumaysho.com/3412-renungan-untuk-rajin-shalat-berjama-ah-di-masjid.html